Pernah ga terpikirkan jika semakin bertambah usia dan isu di kehidupan kita, semakin besar angan-angan dan keinginan kita?
Apa pernah berpikir bahwa semakin rumit kehidupan yang kita jalani, semakin membuka celah untuk harapan menjadi semakin tinggi?
Ingat masa kecil kita yang sesimpel itu berkeinginan. Saya ingin membeli makanan ini saya ingin beli mainan itu. Bahkan keinginan saya sendiri dulu adalah ingin saya bisa tinggi. Yah, bagaimana tidak? Di usia saya saat itu teman-teman saya lebih tinggi dibanding saya. Bahkan saya sempat protes pada ayah, kenapa saya tidak tinggi, dan saya menangis. Sampai-sampai saya menghayal, nanti di surga, saya ingin minta Tuhan untuk membuat saya lebih tinggi.
Ada satu lagi keinginan saya sebenarnya yang sangat konyol untuk pengetahuan yang saya miliki di umur ini - umur saya sekarang sudah lebih dari seperempat abad - saya ingin terbang. Kalian tahu hanya karena apa? Karena saya pernah bermimpi terbang. Dan itu menyenangkan. Dua kali seingat saya mimpi terbang itu hadir, yang pertama saya terbang mengelilingi rumah, yang ke dua saya terbang sebagai hantu. Lucu karena mimpi itu tak pernah hilang dari benak saya.
Keinginan yang terpendam saat ini bisa muncul dari mana saja. Dari masyarakat yang rata-rata membuatnya menjadi konsumsi per-individunya juga bisa. Bayangkan jika semua tetangga kita memiliki sesuatu, apakah menjadi tidak aneh jika kita tidak memilikinya sendiri. Televisi contohnya. Apakah afdhol jika kotak bergambar itu tidak tersedia di rumah kita? Tentu sah saja, yang membuat tidak sah karena keinginan kita itu menjadi sebuah keharusan yang mutlak. Keinginan kecil menjadi semakin besar jika yang kita pikirkan hanya "kehidupan dunia".
Berlanjut pada keinginan yang lebih akut dalam masyarakat adalah, ingin dianggap ada dan berada.
Siapa yang tidak ingin memiliki derajat yang tinggi? Saya ingin. Yang jadi masalah, derajat yang tinggi di hadapan siapa? Manusia? Atau Tuhan?
Coba sekarang lihat, lihat dari kotak gambar bergerak yang dicolokkan di stop kontakmu itu, bagaimana sekarang manusia berlomba masuk ke dalam kotak itu. Kotak yang sempit yang bergantung pada listrik itu. Hanya karena apa? Ingin dianggap ada. Begitu besar keingingan untuk "ada" yang menjadikan manusia itu lupa. Sebenarnya yang harus dia yakinkan untuk menganggapnya ada adalah Tuhannya. Keblinger memang. Saya juga sama. Sama keblingernya dengan dunia.
Lantas? Masih adakah keinginan kita lainnya yang ternyata bukan semata-mata untuk Tuhan kita?
Banyak!
Your Destiny
Jumat, 19 Februari 2016
Pengen ini Pengen itu Banyak Sekali
Rabu, 10 Februari 2016
Be Positive untuk Jodohmu
Manusia diciptakan berpasangan. Ya. Saya setuju. Bahkan yang selain manusia pun berpasangan. Lantas, masihkah kita khawatir tentang janji Tuhan tersebut?
Yang perlu kita lakukan adalah tetap bertawakal. Tetap yakin bahwa suatu ketika seseorang yang tepat akan hadir dalam hidup kita. Perbaiki selalu diri kita. Jauhkan diri dari hal tercela.
Namun ada kalanya memang kita putus asa. Apalagi di saat yang sebaya dengan kita melangkah lebih dulu membentuk sebuah keluarga. Rasanya terbebani. Ditambah pertanyaan dari para sanak saudara. 'Kapan kawin?' Tuhan.. Kutukan apalagi ini? He
Ya sudah, sih. Sabar kalau kata saya.
Untuk yang lagi patah hati karena habis putus cinta? Tenang, sayang. Rata-rata semua orang pernah kecewa. Ya itu dia sebabnya, karena keinginan kita tidak sama dengan yang sebenarnya kita butuhkan. Terlebih patah hatinya orang yang sudah memantapkan hati untuk melanjutkan hubungan yang lebih serius dengan pasangannya, namun orang tuanya tidak menyetujui lantaran status saja. Oh.. Pasti sakit dadamu itu, sayang. Sesak. Rasanya ingin lari saja ke atas pohon. Jangan. Entar disangka monyet.
Tenang saudara. Ada yang lebih parah dari itu. Sudah sama-sama cinta. Sudah sama-sama kenal dengan keluarga, tapi sayangnya belum bisa menikah karena kakak pasangan itu ada yang belum menikah. Lantas orang tuanya pun menginginkan untuk tidak melangkahi kakaknya itu. Ya. Kuasa Tuhan... Mungkin harus lebih berlapang dada kalau katanya sheila on 7.
Ada berbagai halangan memang dalam mencapai bahagia. Kalau bukan seperti itu, mana mungkin kenikmatan kita rasakan sempurna?
Yang perlu diingat di sini adalah, jadikan diri kita sebaik-baik manusia, berkhusnudzon pada yang kuasa, dan berbuat baik kepada sesama manusia.